Jalan Raya Pos, Jalan Daendels oleh Pramoedya Ananta Toer (2005)

Oct 1, 2011 by     No Comments    Posted under: Resensi buku

Tema besar yang kita temui dalam buku-buku Pramoedya adalah bangsa bermental budak. Sebuah argumentasi yang tajam dan Pram menggunakan seluruh hidupnya untuk mempelajari argumentasi ini. Dari novel-novelnya, jeritan pilu seorang Pram ini terdengar dengan jelas. Begitu pula di buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini. Dari tema besar itu di buku ini Pram menyokong argumentasinya dengan sub-tema genosida; meskipun kata ini kurang tepat. Proyek Jalan Pos, Daendels dan penduduk pribumi yang bermentalitas budak menjadi ramuan pas untuk terjadinya sebuah even yang mengerikan.

Di buku ini Pram tidak benar-benar bekerja di topik Jalan Pos. Informasi baru mengenai Jalan Pos begitu minim. Tulisan Pram di buku ini cenderung melebar kemana-mana; mengecewakan mereka yang ingin tahu lebih jauh tentang Jalan Pos itu sendiri. Dengan alasan inilah buku ini mesti dikategorikan kedalam jenis buku sketsa atau catatan informal seorang penulis besar yang kira-kira akan memulai sebuah novel sejarah berikutnya dengan skala ambisius.

Buku ini memuat khasanah pengetahuan yang menarik dan menakjubkan; khas tulisan Pramoedya.  Ketika Jalan Pos melintasi Surabaya misalnya, Pram kembali ke jaman Kraton Surabaya sebelum dihancurkan oleh Kerajaan Mataram yang terbelakang; kejayaan Surabaya yang digambarkan menjadi sumber peradaban di Kraton Jawa Tengah. Fakta sejarah ini sungguh menarik dan membuat Surabaya naik pamor besar-besaran. Pamor yang hilang dengan waktu dan terlupakan. Bukan hanya Surabaya, tiap kota kecil memiliki mutiara sejarah yang membuat kita sedih dengan ketidak-tahuan kita selama ini.

Tentang isilah genosida yang dipakai di buku ini, saya tuliskan kurang tepat sebab istilah ini berkaitan dengan pembersihan etnis tertentu. Sementara dari buku ini sendiri pembaca dapat melihat proyek Jalan Pos ini tidak bertujuan demikian. Di sejarah manapun di dunia, ketika ada upaya mengerahkan ribuan pekerja untuk tinggal di tempat tinggal sementara apakah untuk berangkat perang atau untuk melakukan pembangunan konstruksi besar-besaran, penyakit kholera dan sejenisnya meminta korban yang besar; ketersediaan air bersih atau terkontaminasinya air bersih adalah penyebab utama. Dalam kasus perang, seringkali korban penyakit lebih besar dari korban langsung pertempuran. Kita melihat fenomena ini setiap kali melihat segmen sejarah dunia dari jaman kuno hingga ilmu sanitasi / kesehatan dan penyakit meningkat pesat di awal abad ke-20. Bahkan dalam bencana alam skala besar jaman ini ancaman ini masih besar. Proyek Jalan Pos ini tentunya tidak luput dari fenomena ini, apalagi wilayah Jawa yang tropis dengan nyamuk malarianya (yg saat itu begitu ditakuti dan belum ditemukan obat yg efektif).

Dari buku ini juga kita membaca adanya sekolah liar dengan kurikulum bikinan sendiri. Sejarah diceritakan dari mulut ke mulut. Seperti kita tahu tendensi untuk menambah dan mengurangi sejarah baik secara sadar maupun tidak sadar sudah menjadi bagian dari tradisi lisan. Pram sendiri mendapatkan kesan pertama dari Jalan Pos dari sekolah “liar” dan guru “liar” tempat dia belajar dulu. Sejarah versi “liar” ini tentunya tidak bisa diandalkan selain sebagai pengisi kekosongan masa silam (daripada tidak ada cerita). Beliau juga mengherankan kenapa Jalan Pos ini tidak disinggung Kartini dalam tulisan-tulisannya padahal Jalan Pos ini melewati Rembang, sebuah undangan untuk melakukan riset tentang Jalan Pos lebih jauh.

Buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels   ini meskipun tidak memiliki otoritas sebuah karya sejarah, merupakan sumber inspirasi yang kaya untuk masyarakat awam, penulis dan calon sejarawan masa depan. Buku ini menyinggung banyak topik penting di sejarah negeri kita dan sebagian besar masih di taraf undangan untuk menggali lebih jauh. Pramoedya tentunya tidak menghendaki pembacanya menjadi sekedar pengikut tulisan-tulisannya tanpa berpikir kritis dan mengkaji secara akademis argumentasi-argumentasinya. Jika tidak, mental budak dalam versi intelektual tidak akan terhindarkan.

Buku ini patut menjadi bacaan wajib untuk anak murid sekolah menengah di Indonesia dan menjadi bagian dalam pembahasan pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.

July 2010

Link posting Facebook : http://www.facebook.com/note.php?note_id=442603993828

Be Sociable, Share!

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Facebook