Negarakertagama oleh Mpu Prapanca (1365)

Oct 2, 2011 by     1 Comment     Posted under: Resensi buku
DR TH. Pigeaud “Java In The Fourteeenth Century”. Jilid I – V

Nama Surabaya pertama kali muncul dalam sumber primer tertulis di sebuah kitab kakawin karya Mpu Prapanca tahun 1365. Uniknya nama Jung Galuh (Ujung Galuh) juga tercantum di kitab ini. Dalam konteks apa nama Surabaya di sebut? Informasi apa yang bisa diambil dalam konteks Surabaya Tempo Dulu? Kitab Negarakertagama ini diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, di beri anotasi dan catatan dari para ahli Jawa Kuno, diberi komentar dan dalam satu buku tersendiri dibuatkan index dan glossary. Lima jilid buku tentang Negarakertagama ini merupakan proyek besar karya DR. TH. Pigeaud dengan judul “Java in the Fourteenth Century” yang terbit tahun 1962. Sebuah karya kolosal yang ingin di “cipratkan” sedikit kepada para pemirsa STD oleh penulis yang awam sejarah Jawa, khususnya dalam konteks Surabaya.

 STD telah menayangkan informasi Surabaya tahun 1433 dari sumber China yang ditulis Mahuan,  sedikit informasi dari tahun 1365 oleh Mpu Prapanca ini justru membuka banyak pertanyaan lebih jauh tentang Surabaya di era kejayaan Majapahit. Semoga pemirsa tidak menjadi jenuh, sebaliknya jadi mulai membicarakan sumber-sumber primer yang bisa dibahas (meskipun secara amatiran).

Negarakertagama adalah karya tulis kakawin yang ditulis Mpu Prapanca dan selesai tahun 1365. (Informasi tahun selesai dan profile penulis tertulis dalam Negarakertagama itu sendiri). Karya tulis ini ditulis dengan tujuan pencatatan sejarah dengan tokoh utama sang Raja Wilwa Tikta (Raja Majapahit), Hayam Wuruk (bertahta 1350 – 1389). Sang penulis sendiri rupanya seumur dengan Hayam Wuruk dan merupakan teman sepermainan di masa kecilnya (informasi ini juga tercantum di dalam kakawin Negarakertagama). Diawali dengan silsilah Sang Prabu yang masih terkait erat dengan Kerajaan sebelumnya (Singasari, Kediri-Jenggala, Kediri), kisah perjalanan Sang Prabu keliling teritori yang luas, sang Mahapatih Gajah Mada (hingga kematian Sang Patih). Karya ini meliputi daftar lengkap nama-nama domain Majapahit di puncak kejayaannya, tanggal-tanggal penting, situasi ekonomi, situasi social dan ritual yang ada di masa itu.

Gambar dari Oud Soerabaia oleh von Faber tentang rombongan Hayam Wuruk keliling negeri, seperti yang ditulis di Negarakertagama.

Silsilah Raja Singasari dan Majapahit

Nama Surabaya muncul di Canto (kakawin) 17, stanza ke 5. Stanza ke 5 ini terdiri dari 4 kalimat sbb:

  1. If not like this, he goes to Palah, entering into the Presence at the feet of the holy Mountain-Lord, submissive, humble.
  2. Convenient it is when he continues his way to the end, going to Balitar and Jimur, Shilabrit, admiring.
  3. The principal (point of interest) are the Fish-pond of Daha, the manor Lingga-Marabangun; these are visited every time.
  4. When he is in Janggala, every time, the Prince’s durbar is in Surabaya; continuing his way he goes to Buwun.

 Terjemahan minim dari STD adalah sbb:

  1. Jika tidak, Beliau pergi ke Palah, memasuki Kekusyukan di kaki Gunung Suci (Holy Mountain-Lord) dan merendah.
  2. Jika memungkinkah dia meneruskan ritualnya hingga selesai, pergi ke Balitar dan Jimur, Shilabrit, menaikan puja.
  3. Tempat paling disukai adalah Fish-Pond (Kolam ikan) di Daha, manor Lingga-Marabangun, yang sering dikunjunginya.
  4. Jika Beliau di Janggala, seringkali para punggawa / pengikutnya tinggal di Surabaya; kemudian dia akan meneruskan perjalanan ke Buwun.

 Kakawin (Canto 17) ini merupakan bagian awal dari perjalanan Hayam Wuruk tahun 1359 dengan rute Majapahit – distrik- distrik Timur Jawa – Singasari. Perjalanan tahun itu berakhir di canto 38. (Total kakawin didalam Negarakertgama adalah 98 dengan total kurang lebih 350 stanza)

 Kita mulai pembahasan dari kalimat ke-4 diatas. Seperti kita tahu Kerajaan Kediri dibagi dua menjadi Kediri-Daha (Brantas Hulu) dan Jenggala-Kahuripan (Brantas Hilir). Ketika Beliau di Jenggala, berarti area Brantas Hilir dimana Surabaya dan Buwun merupakan dua tempat yang menjadi perhatian disini. Piegaud memberikan kometar tentang Surabaya dan Buwun sebagai berikut: Buwun menurut Kawi-Balineesh-Nederlandsch Woordenboek (1894) karya van der Tuuk, berarti sebuah sumur.  Lokasi Buwun di delta Brantas ini belum ditemukan persisnya hingga sekarang.

 Realita kosmologi Jawa yang unik di jaman itu adalah Jenggala-Kahuripan dianggap belahan Kediri wanita dan Kediri-Daha dianggap belahan Kediri pria.  Unsur pria dari belahan Kediri-Daha adalah asal nama kedua kata: Kediri dan Daha, yang berarti berdiri dan merujuk pada phallus (kemaluan pria). Unsur wanita belahan Jenggala-Daha adalah buwun alias sumur yang merujuk pada kemaluan wanita.

Sebagai perbandingan, di kalimat ke-3, ketika Beliau di Daha, tempat yang dikunjunginya adalah Fish-Pond dan manor Lingga-Marabangun. Lokasi Fish-Pond ini dapat ditelusuri di kitab Pararaton, kumpulan Kidung- gaya Jawa (bukan Kakawin – gaya India) karya Jaya Katong (Jayakatwang), di buku ini tertulis tentang Wukir Polaman yang berarti Fish-pond Mountain di area Kediri. Lingga-Marabangun sendiri merujuk pada arti standing phallus (kemaluan pria yang berdiri), kemungkinan merupakan tempat tinggal para keluarga kerajaan Kediri.

 Dua lokasi di Daha dan dua lokasi di Jenggala. Piegaud menduga Lingga-Marabangun di Kediri dan Surabaya di Jenggala merupakan tempat tinggal para keluarga kerajaan kuno sedangkan Buwun di Jenggala dan Polaman (Kolam ikan) di Kediri merupakan situs ritual / sanctuary kerajaan kuno.

 Ada nama lain yang muncul di komentar tentang kitab Pararaton: Jung Galuh. Alkisah raja Jayakatwang (Raja Kediri terakhir) yang bernasib naas setelah kekalahannya tahun 1293 melawan invasi tentara Mongol, diasingkan di Jung Galuh. Kitab Pararaton diduga mengandung tumpahan isi hati sang raja yang kehilangan kekuasaan dan wilayahnya, oleh karena itu dia mendeskripsikan sanctuary penting di Kerajaannya (yaitu Wukir Polaman)

Peta dari Atlas Sejarah oleh M. Yamin tentang Jawa menurut Prapanca 1365. Perhatikan lokasi Hujung Galuh yang berbeda dengan Surabaya.

Uniknya Pigeaud menulis lokasi Jung Galuh tidak diketahui secara pasti, kemungkinan di delta Brantas di dalam kekuasaan Jenggala. Mungkinkah nama Jung Galuh / Ujung Galuh ini belum pasti benar sama dengan Surabaya? Mungkinkah para ahli Jawa Kuno belum benar-benar sepaham tentang Surabaya = Jung Galuh? Atau memang Ujung Galuh bukan nama asal Surabaya???

Des 2010

Be Sociable, Share!

1 Comment + Add Comment

  • Nice words

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Facebook